Sebelumnya aku ucapkan
terimakasih banyak kepada suamiku yang
telah mengijinkan aku (kedua kalinya) untuk memposting kisah
ini...
Ku
repost tulisanku ini dari salah satu blogku yang hilang. Ternyata beberapa
file artikelku rapi tersimpan dalam netbookku… ^___^
Kamis, 24 November 2011.
Tepat pukul 15.34Wib, aku mengambil posisi duduk di pojok
angkutan kota Krukut-Pondok Labu.
Ku melirik jam tangan, memastikan waktu bahwa aku tidak
akan telat datang ke suatu tempat ku harus mengajar sore di daerah pinggir kota
Jakarta Selatan. Dering sms pun berbunyi, tertuliskan pesan permintaan darurat
harus segera sampai.
Ku pandangi jam tangan sekali lagi lalu kulepas dan
kumasukkan ke dalam tempat pensil, "keburu qo..". Ku letakkan
kembali, lalu menutup tas.
Tiba-tiba refleks mataku tertuju pada seorang
lelaki yang melintas di depanku (posisi belakang mobil angkutanku). Ternyata
dia masuk mobil yang sama denganku. Dan sekali lagi, ternyata....
Allah saat itu mengabulkan doaku...
Doaku setahun lalu,
Untuk aku dipertemukan lagi dengannya.
Lelaki itu, akhirnya...
-------------------------------------------------------------------------------------------------
6 tahun lalu,
Setiap hari selama kurun waktu 4 tahun, aku dan dia
berada pada 1 bus yang sama Mayasari AC 84 jurusan Depok-Rawamangun. Keluar
dari bus kami pun menumpangi angkutan kota (angkot) yang sama lagi,
Depok-Parung. Hampir setiap hari bersamaan.
Seperti biasa, aku adalah salah satu perempuan yang
memiliki sifat cuek (naudzubillah kata teman mah) yang pernah ada. Kalo gk
kenal banget bisa gk senyum sama sekali, gk mau lihat orang lama-lama.
Pun begitu tingkahku di bus. Wanita selalu mendapatkan
tempat duduk dalam bus kota (kalau gk dapet duduk pun bisa jadi duduk atas rasa
sadarnya lelaki yang menawarkan tempat duduk kepada wanita, 2 jam lebih
perjalanan membuat wanita tampak payah jika harus berdiri), dan aku selalu dan
pasti tertidur pulas dalam bus.
Jika tidak, aku berdiri selama perjalanan dan berbicara
keras-keras seperti toa jika kebetulan pulang bersama konde mayong... Seperti
bus isinya cuma kami berdua. Rame berdua, berisik berdua.
Aku sering berpapasan dengan lelaki itu dalam bus, aku
duduk dia berdiri di depanku, dan aku selalu cuek dan selalu bisa tidur dalam
keadaan apapun..hee
Aku adalah perempuan yang cepat akrab dengan siapapun,
supel begitu sahabatku bilang. Tapi ntah untuk lelaki ini aku takut sekali
menyapanya (sering aku yang membuka pembicaraan dengan siapapun, mungkin itu
adalah keahlianku, menghangatkan suasana, membuka pembicaraan.). Ntahlah, aku
tak berani. Mungkin dia pun sama, karna setiap berpapasan dengannnya, aku tak
pernah sedikipun menyunggingkan senyum. Flat.
Maka, habislah 4 tahun itu aku tak pernah kenal siapa
lelaki itu, sekedar mengetahui siapa namanya, ia mengambil jurusan apa dan rumahnya di Depok
mana aku tak tahu. Seperti tak ada ruang untuk bersahabat dengannya. Tidak
seperti teman-teman yang lain yang akrab denganku dari hasil berkenalan di bus
baik lelaki ataupun perempuan. Namanya teman seperjalanan.
Aku yakin, dia ingat betul aku.
Lulus Juni, aku tak pernah melihatnya lagi.
Setahun kemudian. Saat aku dipanggil interview
dan microteaching di sekolah A, aku bertemu dengannya, ternyata dia sudah
menjadi guru di sekolah A tsb. Kami berpas-pasan di lantai 2. Seperti biasa aku
hanya (berlagak) cool, gk senyum, dan dia mengamatiku. Saat itu dalam
pikiranku, “Eh, dia kan yang 1 bus. Inget gk ya?” mungkin keraguan lelaki itu
ingat atau tidak padaku, membuatku urung untuk bertegur sapa. Takut malu kalau
salah. Mungkin dalam pikiran lelaki itu pun sama. Tapi dari sini aku merasa
bersalah sekali. Sering bertemu tetapi aku selalu menunjukkan wajah tak ramah.
Aku berdoa setelah pulang, Ya Allah, kayaknya saya salah tidak pernah
menyapanya dan tak ramah. Semoga di lain hari ada kesempatan bertemu bisa
menjadi lebih ramah dengannya.
Tetapi akhirnya aku menandatangani kontrak menjadi guru
di sekolah C.
Setahun berlalu....
Aku berada di sekolah M, sekolah adikku, aku ada
keperluan dengan Kepala Sekolah M.
Aku melihat lelaki itu lagi. Apa dia guru adikku?
Sebenarnya dia guru apa?
Bila melihatnya di kampus perkiraanku adalah dia
mahasiswa sastra Arab didukung dengan penampilannya yang kalem dan sopan.
Akh ntahlah...
(Back to dalam angkot)
Aku tahu, aku sedang diamati lelaki itu.
Aku tahu apa
yang sedang dipikirkan denganku pastinya sama.
Aku tahu, aku bingung bagaimana bertegur sapa.
Dan aku
tahu, aku hanya ingin diam.
Angkot berhenti, lelaki itu turun. Angkotnya diam,
mungkin menunggu penumpang yang dari kejauhan terlihat ingin menumpang angkotku.
Aku beranikan diri melihat lelaki itu.
Dan, lelaki itu akhirnya... tersenyum padaku, lalu
menganggukkan kepalanya.
Aku kaget, tetapi aku berhasil menyempatkan diri membalas
dengan anggukkan kepala dan senyuman. Dan akhirnya angkot berlalu.
Alhamdulillah, ternyata pertemuan dengannya merupakan
salah satu doaku yang terkabul.
Alhamdulillah juga, akhirnya bisa membuka ruang
“pertemanan” di antara kami walau tidak sepenuhnya benar berteman.
Sabtu esok, aku harus melakukan tes ujian di sekolahnya,
sekolah adikku. Akankah bertemu lagi dengannya??? Semoga bisa menjadi sahabat.
Satu almamater rasanya aneh tak saling berteman.
@Ruang Ceria, office. 25112011
Selamat Hari Guru Nasional.
Mari cerdaskan putra-putri Indonesia! \(^__^)/
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Repost menyemarakkan malam, mengumpulkan kenangan yang berserak,
Mampang, 20 Februari 2017
Salam hangat,