Minggu, 19 Februari 2017

Lelaki Itu, Akhirnya...

Sebelumnya aku ucapkan terimakasih banyak kepada suamiku yang telah mengijinkan aku (kedua kalinya) untuk memposting kisah ini...
Ku repost tulisanku ini dari salah satu blogku yang hilang. Ternyata beberapa file artikelku rapi tersimpan dalam netbookku… ^___^


Kamis, 24 November 2011.

Tepat pukul 15.34Wib, aku mengambil posisi duduk di pojok angkutan kota Krukut-Pondok Labu.
Ku melirik jam tangan, memastikan waktu bahwa aku tidak akan telat datang ke suatu tempat ku harus mengajar sore di daerah pinggir kota Jakarta Selatan. Dering sms pun berbunyi, tertuliskan pesan permintaan darurat harus segera sampai. 
Ku pandangi jam tangan sekali lagi lalu kulepas dan kumasukkan ke dalam tempat pensil, "keburu qo..". Ku letakkan kembali, lalu menutup tas.
 Tiba-tiba refleks mataku tertuju pada seorang lelaki yang melintas di depanku (posisi belakang mobil angkutanku). Ternyata dia masuk mobil yang sama denganku. Dan sekali lagi, ternyata....

Allah saat itu mengabulkan doaku...
Doaku setahun lalu,
Untuk aku dipertemukan lagi dengannya.

Lelaki itu, akhirnya...

 -------------------------------------------------------------------------------------------------
 6 tahun lalu,
Setiap hari selama kurun waktu 4 tahun, aku dan dia berada pada 1 bus yang sama Mayasari AC 84 jurusan Depok-Rawamangun. Keluar dari bus kami pun menumpangi angkutan kota (angkot)  yang sama lagi, Depok-Parung. Hampir setiap hari bersamaan.
Seperti biasa, aku adalah salah satu perempuan yang memiliki sifat cuek (naudzubillah kata teman mah) yang pernah ada. Kalo gk kenal banget bisa gk senyum sama sekali, gk mau lihat orang lama-lama.

Pun begitu tingkahku di bus. Wanita selalu mendapatkan tempat duduk dalam bus kota (kalau gk dapet duduk pun bisa jadi duduk atas rasa sadarnya lelaki yang menawarkan tempat duduk kepada wanita, 2 jam lebih perjalanan membuat wanita tampak payah jika harus berdiri), dan aku selalu dan pasti tertidur pulas dalam bus.
Jika tidak, aku berdiri selama perjalanan dan berbicara keras-keras seperti toa jika kebetulan pulang bersama konde mayong... Seperti bus isinya cuma kami berdua. Rame berdua, berisik berdua.
Aku sering berpapasan dengan lelaki itu dalam bus, aku duduk dia berdiri di depanku, dan aku selalu cuek dan selalu bisa tidur dalam keadaan apapun..hee
Aku adalah perempuan yang cepat akrab dengan siapapun, supel begitu sahabatku bilang. Tapi ntah untuk lelaki ini aku takut sekali menyapanya (sering aku yang membuka pembicaraan dengan siapapun, mungkin itu adalah keahlianku, menghangatkan suasana, membuka pembicaraan.). Ntahlah, aku tak berani. Mungkin dia pun sama, karna setiap berpapasan dengannnya, aku tak pernah sedikipun menyunggingkan senyum. Flat.
Maka, habislah 4 tahun itu aku tak pernah kenal siapa lelaki itu, sekedar mengetahui siapa namanya, ia mengambil jurusan apa dan rumahnya di Depok mana aku tak tahu. Seperti tak ada ruang untuk bersahabat dengannya. Tidak seperti teman-teman yang lain yang akrab denganku dari hasil berkenalan di bus baik lelaki ataupun perempuan. Namanya teman seperjalanan.

Aku yakin, dia ingat betul aku.

Lulus Juni, aku tak pernah melihatnya lagi.
Setahun kemudian. Saat aku dipanggil interview dan microteaching di sekolah A, aku bertemu dengannya, ternyata dia sudah menjadi guru di sekolah A tsb. Kami berpas-pasan di lantai 2. Seperti biasa aku hanya (berlagak) cool, gk senyum, dan dia mengamatiku. Saat itu dalam pikiranku, “Eh, dia kan yang 1 bus. Inget gk ya?” mungkin keraguan lelaki itu ingat atau tidak padaku, membuatku urung untuk bertegur sapa. Takut malu kalau salah. Mungkin dalam pikiran lelaki itu pun sama. Tapi dari sini aku merasa bersalah sekali. Sering bertemu tetapi aku selalu menunjukkan wajah tak ramah. Aku berdoa setelah pulang, Ya Allah, kayaknya saya salah tidak pernah menyapanya dan tak ramah. Semoga di lain hari ada kesempatan bertemu bisa menjadi lebih ramah dengannya.

Tetapi akhirnya aku menandatangani kontrak menjadi guru di sekolah C.
Setahun berlalu....
Aku berada di sekolah M, sekolah adikku, aku ada keperluan dengan Kepala Sekolah M.
Aku melihat lelaki itu lagi. Apa dia guru adikku? Sebenarnya dia guru apa?
Bila melihatnya di kampus perkiraanku adalah dia mahasiswa sastra Arab didukung dengan penampilannya yang kalem dan sopan.

Akh ntahlah...

(Back to dalam angkot)

Aku tahu, aku sedang diamati lelaki itu.
Aku tahu apa yang sedang dipikirkan denganku pastinya sama.
Aku tahu, aku bingung bagaimana bertegur sapa.
Dan aku tahu, aku hanya ingin diam.
Angkot berhenti, lelaki itu turun. Angkotnya diam, mungkin menunggu penumpang yang dari kejauhan terlihat ingin menumpang angkotku.
Aku beranikan diri melihat lelaki itu.

Dan, lelaki itu akhirnya... tersenyum padaku, lalu menganggukkan kepalanya.

Aku kaget, tetapi aku berhasil menyempatkan diri membalas dengan anggukkan kepala dan senyuman. Dan akhirnya angkot berlalu.

Alhamdulillah, ternyata pertemuan dengannya merupakan salah satu doaku yang terkabul.
Alhamdulillah juga, akhirnya bisa membuka ruang “pertemanan” di antara kami walau tidak sepenuhnya benar berteman.
Sabtu esok, aku harus melakukan tes ujian di sekolahnya, sekolah adikku. Akankah bertemu lagi dengannya??? Semoga bisa menjadi sahabat. Satu almamater rasanya aneh tak saling berteman.



@Ruang Ceria, office. 25112011
Selamat Hari Guru Nasional.

Mari cerdaskan putra-putri Indonesia! \(^__^)/

-------------------------------------------------------------------------------------------------
Repost menyemarakkan malam, mengumpulkan kenangan yang berserak,
Mampang, 20 Februari 2017

Salam hangat,




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Simple I am

Foto saya
Kamu bisa mengenalku dari setiap senyum yang kuberikan karena menurut sahabatku, aku wanita yang mudah tersenyum, seorang wanita biasa dan sederhana, yang selalu ingin memperbaiki diri dan berkembang menjadi manusia lebih berguna untuk sesama. ~Khairunnas anfa'uhum linnas..~
 

Ruang Utami™ Design by Insight © 2009